Musim Panas di Jerman Januari 18, 2007
Posted by bayuleo in Jalan2.7 comments
Take off dari Soekarno-Hatta hari Minggu jam setengah tujuh malem, nyampai di
Kuala Lumpur jam 8 malem waktu setempat. Penerbangan ke Frankfurt jam 11.10 malem. Lumayan masih ada waktu 2 jam untuk jalan-jalan di airport yang arsitektur nya agak futuristik. Jam sebelas kurang seperempat masuk ke pesawat …..ok lah pesawatnya Malaysian Airlines, penerbangan yg menyenangkan ditambah pramugarinya cantik-cantik …hemmm plus bisa maen game & muter film sepuasnya. Butuh sekitar 12 jam untuk sampai di Frankfurt.
Tiba di Frankfurt jam enam pagi (lunch time di Jakarta), 19 derajat celcius dingin banget! Untungnya saja teman yang jemput udah ada di ruang tunggu, ”hey man..long time no see” + pelukan erat. Keluar dari Bandara temenku langsung bawa aku ke Berlin naek mobil alfa romeo, sejenis mobil olah raga kalo gak salah sepabrikan ama Fiat dan Ferrari. Dia setir hajar sendirian dari Frankfurt sampai Berlin habis aku belum fasih mengendalikan mobil kayak gitu ….lagian jalannya di sebelah kanan bukan di sebelah kiri …..alamak. Sorenya dah sampai di Berlin langsung jalan-jalan kota-kota naek sepeda kumbang sejenis punya Pak Oemar Bakrie nya Iwan Fals. Siang hari di Berlin panjang banget ….udah jam 11 malem tapi masih terang kayak jam lima di Jogja.
Hari kedua, pergi ke Museum di pusat kota Berlin. Museumnya penuh dengan barang barang kenangan sejarah tentang runtuhnya tembok Berlin. Setelah itu pergi ke markas “die tageszeitung” yang merupakan salah satu koran independen. Ada teman yang kerja disitu dan menunjukan semua bagian bangunan plus liat-liat orang-orang yang bekerja di situ serta sedikit proses kerja. Makan siang diajak kawan yang bekerja di koran itu untuk makan di restoran Italy, makan spaghety ….indomie goreng. Teman makan siang balik kerja trus kaki melangkah menuju ke gedung pusat pemerintahan, DPR/MPR Jerman. Gedungnya gede dan tua tapi terawat…warisan nenek moyang. Mau masuk antrinya panjang banget ….banyak turis ….udah gitu pake kebelet menahan pengin pipis abis-abis an. Gak ada toilet deket situ….mau pipis angkat celana di lapangan …..gak enak , kalo keluar barisan antrian ntar harus mulai lagi dari awal yang panjang banget, akhirnya ditahan-tahan sampai si Johny kecil kembang-kempis adem panas.
Tiba juga akhirnya giliran, setelah di cek sama satpam naek ke puncak gedung ……waaaaa disini ada rest room ….damai hahahaha. Puncak gedung berbentuk kubah dari kaca yang ukurannya besar banget. Dari puncak kubah kaca terlihat kota Berlin dengan beberapa view. Waktu jalan pulang ke apartemen ketemu dua teman trus pergi ke kafe untuk minum kopi, ngobrol sebentar trus pulang ….tidur ssszzzzz.
Hari ketiga, bangun siang trus makan siang di kantin Universitas Freie Berlin, lanjut ikut satu sesi kuliah tentang sejarah konsititusi Canada. Kuliahnya pake bahasa Inggris dan cukup menarik karena suasanannya begitu hidup. Kelasnya berbentuk meja bundar trus mahasiswannya bisa mengekspresikan ide-ide mereka dengan bebas. Abis itu pergi ke museum Anthropology milik universitas. Museum nya bagus, banyak sekali barang-barang kuno jaman baheula dari seluruh dunia. Ada dari suku-suki Indian, Afrika, Amerika, Eropa dan dari Indonesia juga ada. Sorenya masak bareng di apartemen teman, masakannya enak trus ngobrol sana-sini ampe tengah malem.
Hari keempat, teman yang kerja di Bundestag, gedung DPR/MPR, mengajak untuk melihat kantornya. Lumayan bisa masuk gedung itu dengan liat-liat trus makan siang di kantin lalu jalan-jalan disekitar istana tempat tinggal kanselir Jerman. Setelah itu pergi ke pameran tentang korban rasisme yang diselengarakan oleh mahasiswa-mahasiswa seni dan design di dekat tembok Berlin.
Hari kelima, di jemput teman di apartemen untuk sepeda-sepeda an keliling menyusuri sungai Spree terus menuju pelabuhan kecil, makan siang dan minum kopi di pingir jalan. Sorenya masak lagi bareng-bareng mengundang semua teman, ada 7 orang, untuk makan malem besama. Masakannya enak makannya banyak minum anggur merah dan putih, ngobrol sampai malem sambil ngemil coklat. Malem yang menyenangkan.
Hari keenam, dua orang teman datang dari Dresden. Seharian jalan-jalan bareng di sekitar sungai. Malemnya diundang makan malem ….makan lagi …makan lagi.
Hari ketujuh, kami semua bersama-sama pergi ke pelabuhan dan beli tiket untuk naek kapal keliling-keliling di sepanjang sungai Spree, melihat kota Berlin dari sisi lain. Selama di kapal banyak banget aku mengambil gambar….ada juga orang-orang yang pada telanjang menikmati hangat nya matahari musim panas. Buat aku itu matahari panas banget membakar kulit yang udah dari sono nya coklat tapi memang udarannya tetap adem kayak di kaliurang. Setelah puas lalu makan siang di warteg turki. Sorenya bikin barbeque in taman kota tp sayang dua orang teman tidak bisa ikut karena harus baik ke Illemenue dan ke Dresden. Abis barbeque perut rasannya kenyang banget.
Hari kedelapan, seorang teman cewek yang kuliah di Universitas Friei mengajak jalan-jalan kota-kota lalu mengajak untuk maen ke apartemennya. Dia sharing apartemen tempat dia tinggal bersama tiga mahasiswa yang laen. Itu mahasiswa pada ramah-ramah, ngobrol sana sini tentang kegiatan mereka sebagai mahasiswa. Akhirnya kami makan malem bareng.
Hari kesembilan, kecapekan karena jalan-jalan melulu badan pegel semua jadi seharian cuman mlunker di apartemen tidur seharian, baca buku dan liat tv.
Hari kesepuluh, jemput pacar teman di bandara yang datang dari Spanyol. Lalu pergi ke stadion untuk liat bola, piala dunia live tapi pake layar raksasa, Jerman lawan Irlandia. Ramai banget orang pada teriak-teriak dukung Jerman…..seru dan banyak yang sambil minum berbotol-botol bir. Malemnya pergi ke Bar untuk makan lalau jalan-jalan ke taman kota cuci mata. Setelah itu pergi ke Bar lagi untuk merayakan teman yang ulang tahun. Sederhana tapi romantis pas tengah malem diringi suara serak almarhum Kurt Cobain lagu-lagu Nirvana pun mengema …..come as you are as a friend….. minum terus sampai pagi.
Hari kesebelas, pergi ke kota Postdam. Mengunjungi bangunan-bangunan tua yang katannya warisan Kaisar Frederick Wilhem III, gak kenal aku itu sapa …kalo Panembahan Senopati, Hayam Wuruk, Gadjah Mada….nah itu sedikit-sedikit aku ngerti. Setelah itu pergi ke Universitas Postdam untuk makan siang, numpang di kantin mahasiswa yang hargannya agak miring dikit. Rencananya mau lanjut jalan ke pusat kota Postdam tetapi hujan keburu menguyur akhirnya kabur balik ke rumah.
Hari-hari selanjutnya aku dah gak nulis catatan harian dengan detil.
Weekend, sabtu pagi-pagi teman mengajak pergi ke Dresden, kota dimana ada 2 orang teman laen yang tinggal dan bekerja jadi dosen dan istrinya orang Jogja. Ke Dresden naek kereta api, kereta apinya bersih dan perlu 3 jam perjalanan untuk sampai di stasiun kota Dresden. Sesampainya disana sudah ada 2 orang teman yang menunggu untuk menjemput. Lalu kami pergi ke tempat tingal mereka, istirahat mlunker di sofa sambil liat sepak bola di tv dan ngemil makanan kecil masakan sendiri. Malemnya pergi ke pusat kota Dresden, makan malem di restoran, makanannya enak banget tapi harganya lumayan mahal. Setelah itu jalan-jalan kota-kota cuci-cuci mata-mata. Berlanjut pergi ke Bar minum-minum bir dan koktail.
Minggu pagi-pagi setelah sarapan pergi ke sebuah komplek bangunan istana tua, kayaknya dari kerajaan jaman dulu. Bangunannya masih angun kokoh berdiri dan ruang terbuka di bagian tengah bangunan itu biasa di pakai untuk konser musik klasik. Kemudian jalan ke pusat perbelanjaan tapi sayang banyak yang tutup karena hari minggu pada libur, duduk-duduk di dekat air mancur. Lalu pergi ke festival, kayak pasar kaget di hari minggu. Ramai banget dan banyak orang jualan pernak-pernik, pengamen juga ada, seniman yang iseng melukis, organisasi ekologi seperti Green Peace juga ada stan kecil disitu. Setelah makan siang kembali cabut ke Berlin naek kereta api lagi. Waktu perjalanan pulang sedikit terlambat karena banyak holigan sepakbola yang naek kereta api. Sesampainnya di stasiun kota Berlin teman sudah sepuluh menit menunggu untuk menjemput untuk membawaku ke apartemen. Tidur……zzzzzz mimpi indah terbang ke Bulan.
Hari-hari berikutnya di Berlin diisi dengan kegiatan favourite yaitu sepeda-sepeda an kota-kota. Temenku punya 4 sepeda, dua sepeda balap, satu sepeda yang besar dan panjang untuk tandem dua orang dan satu lagi sepeda kumbang Oemar Bakrie. Sepeda kumbang jantan ini belum lama dia dapat, kalo tidak salah bekas sepeda militer tentara waktu jaman perang dunia ke dua. Jalan-jalan naek sepada di Berlin enak banget karena ada jalur khusus sepeda, udaranya adem trus banyak taman-taman kota yang bisa dipake untuk bersantai, barbeque ataupun bercinta.Sempat juga juga pergi ke taman Sansoucci, taman ini peningalan jaman dulu terawat sampai sekarang dan indah. Bangunan-bangunan besar di kelilingi taman dan rumput hijau. Waktu masuk ke salah satu bangunan itu di minta untuk lepas sepatu dan sandal lalu di beri sepatu sendal yang berbulu, ini untuk menjaga lantai agar tetap terjaga dan tidak cepat rusak. Ornamen di dalam gedung ……bayangin sendiri aja kalo istana itu seperti apa.
Dari Berlin kemudian menuju ke Stuttgart, temenku yang bawa mobil lewat Autobahn atau jalan tol. Kadang aku minta dia untuk ngebut….hahaha asik juga sambil muter lagu RHCP plus menikmati pemandangan kebun gandum di kanan dan kiri jalan ditambah udara segar mengalir bebas dari sun roof mobil yang terbuka.
Di Stuttgart menginap di rumah orang tua teman, pegawai negeri bekas tentara waktu perang dunia kedua, sudah pensiun. Keesokan harinya hujan es besar-besar, pasti bonyok kalo kena kepala, heran musim panas kok ada hujan es. Sorenya bantu bersih-bersih kebun di belakang rumah potong-potong rumput.
Hari-hari selanjutnya matahari kembali bersinar cerah. Pergi ke danau untuk berenang. Banyak orang telanjang di sekitar danau tidur-tidur an menikmati hangatnya matahari, sebagian ada yang telanjang bulet. Hari lain pergi ke museum Mercedes Benz. Koleksinya lengkap dari jaman dulu waktu awal-awal sampai dengan sekarang. Mobil yang kayak sepeda ada mobil balap dari yang klasik sampai mobil bekas formula one yang di pake oleh Mika Hakinnen pun nangkring disana. Kota Stuttgart sedikit berbukit-bukit jadi kurang enak kalau jalan-jalan pake sepeda.
Satu teman laen mengundang untuk datang ke rumah dia. Makan-makan lalu di ajak ke kebun anggur punya keluarga. Ada rumah kecil di dekat kebun anggur itu dan kami semua menginap di tempat itu. Rasanya kayak di kampung sendiri, malemnya tidur tidak nyenyak karena banyak nyamuk ……mau beli autan tidak ada warung. Akhirnya tidur mlunker selimut dari ujung kaki sampai ujung rambut. Keesokan harinya santai bareng sarapan, ngobrol-ngobrol dan bersenda gurau sambil maen-maen di sekitar rumah. Sorenya barbeque, rame-rame makan banyak daging dan minum anggur puas-puas sampai malem. Di lain hari jalan-jalan ke kebun anggur naik agak ke atas bukit, sejauh mata memandang hijau kebun anggur di tengahnya ada sungai besar meliuk, jadi teringat sawah menghijau di Godean Jogja. Lalu pergi ke pabrik anggur untuk beli beberapa botol.
Ahha ….. baru inget …..belanja coklat ……berkili-kilo ….. makan coklaaattttt……..! udah dulu ya, Aufwedersehen!
The Song of Hiawata Januari 5, 2007
Posted by bayuleo in Kehidupan.9 comments
The song of Hiawata: sebuah persembahan untuk sahabatku, Edo di Amsterdam.
Semakin aku berfikir seiring dengan jalannya hidup dan pengalaman yang kulalui aku tersadar bahwasannya semakin sedikit aku mengetahui tentang dunia ini, tentang kehidupan. Begitu banyak kepalsuan yang terhampar. Tidak disini tapi juga disana, dimana-mana saja. Nyaris tiada warna putih, yang ada hanya hitam pekat dan hitam, sedikit saja yang abu-abu.
Sama sekali tak dapat dimengerti bahwasannya kehidupan manusia benar-benar begitu kejam dimana tetesan keringat, darah, bahkan cucuran airmata sekalipun tak mampu menggugah hati yang telah membatu. Akal budi, nalar ternyata tidak banyak membantu untuk belajar dari sejarah. Ada yang hidup bergelimang harta, kemewahan yang tiada tara (entah dari mana asalnya) namun jiwanya telah mati. Ada yang berlaku melebihi keledai yang selalu terjatuh pada satu lubang yang sama, begitu terus berulang-ulang. Waktu tidak menghalangi manusia untuk menulis dan menulis ulang lembaran sejarah yang sama. Keserakahan
Memang demikian atau bagaimana. Selalu mencari dan mengharapkan yang tidak ada, yang ada di depan mata pun seolah tak berarti. Begitu hilang barulah terasa ada makna. Kenapa harus kehilangan terlebih dahulu baru bisa menghargai. Keluh kesah. Dan jika mimpi yang dulu begitu indah menjadi nyata, kenapa seolah menjadi biasa saja? Seketika muncul kilauan mimpi baru yang tak terbeli.
Keserakahan ternyata juga mengotori hubungan manusia dengan Sang Pencipta, puluhan juta dihamburkan untuk kunjungan berulang2 yang sudah berkurang maknanya dan berganti dengan keinginan2 untuk disebut dengan gelar si anu dan itu agar orang2 tau dan memuliakan, seraya memalingkan muka dari jutaan orang2 merintih kelaparan, yang harus kehilangan masa depan tanpa pendidikan, yang terpaksa menggadaikan raga, yang terpaksa menanti datangnya saat akhir dari kehidupan. Yang dipentingkan cuma aku, dan aku, hanya aku dan selalu aku.
Road to Papua Januari 2, 2007
Posted by bayuleo in Jalan2.19 comments
Perjalanan ini terasa amat menyedihkan…Sayang kau tak duduk disampingku kawan….Banyak cerita yang mestinya kau saksikan….Di tanah kering bebatuan………Tubuhku terguncang di hempas batu jalanan….(Ebiet G. Ade)
Pagi-pagi sekitar jam enam tiba di bandara di kota Sorong, setelah penerbangan yang melelahkan dari Jakarta karena transit dinihari beberapa jam di Ujung Pandang. Lega rasanya sampai di tempat tujuan dan bisa kembali menghirup segarnya udara pagi. Mata berat karena mengantuk dan ingin cepat-cepat sampai di hotel untuk merebahkan badan di tempat tidur dan beristirahat.
Namun sayang keinginanku untuk cepat-cepat keluar dari bandara tidak terpenuhi karena harus antri menunggu satu koper di bagasi. Jangan membayangkan menunggu barang seperti di bandara Cengkareng Jakarta dimana kita tingal tunggu barang yang datang mengalir lewat mesin yang terus berputar menghantarkan koper ke depan hidung kita. Disini masih manual, barang datang dari pesawat diangkut dan di tempatkan di sebuah ruangan, tepatnya sebuah kamar yang ukurannya kecil, lalu beberapa petugas memeriksa nomor yang ada di setiap barang-barang tersebut sambil berteriak, nah para penumpang yang mau mengambil barang, yang merasa nomornya cocok kemudian mengambil barang mereka masing-masing. Banyak yang antri berdesak-desakan dan aku salah satunya yang berada di antrian itu.
Cukup lama menunggu hingga sempat timbul perasaan kuatir jangan-jangan koper itu nyangkut entah kemana. Setelah antrian hampir habis baru akhirnya kudapat itu koper. Bergegas aku berjalan ke luar pintu bandara dan jemputan sudah menunggu. Sempat terbersit sedikit rasa kuatir kalau tergigit nyamuk karena kebetulan tidak pakai baju lengan panjang. Katanya malaria di pulau ini cukup ganas. Kutenangkan hati dengan berkata pada diri sendiri kalau sesampai di hotel abis sarapan akan ku minum itu obat anti malaria yang kubawa dari Jakarta, segepok tablet dari dokter. Katanya harus diminum sehari sebutir dan usahakan pada waktu yang sama artinya kalau kemarin aku minum itu obat setelah makan siang berarti hari ini juga harus setelah makan siang. Tiga hari sebelum berangkat aku sudah diminta minum itu obat oleh dokter dan aku meminumnya selalu setelah makan pagi.
Tidak sampai tiga puluh menit sudah sampai di hotel. Samasekali tidak seperti bayangan yang ada di benakku sebelumnya. Katanya hotel ini adalah hotel yang paling bagus di kota Sorong, buatku ini tidak lebih dari sebuah hotel melati. Setelah sarapan sepotong roti dan secangkir teh hangat plus pil anti malaria, segera ku terbang ke dunia mimpi……tidoer.
Siang hari bangun tidur abis mandi langsung pergi ke agen perwakilan Merpati untuk cari tiket pesawat ke kota Fak-Fak. Sayang sekali tidak ada tiket yg tersisa. Aku mau ke Fak-Fak dua malem saja. Sebelumnya sudah berusaha untuk booking dari Jakarta ternyata susah dan disarankan untuk langsung beli aja ketika di Sorong. Di sini pun ternyata tidak mudah untuk cari tiket pesawat ke Sorong karena pesawat yang bisa terbang ke sana hanya ada pesawat jenis Twin Otter yang cuman muat gak lebih dari 18 orang. Aku pergi ke beberapa travel agen lain tapi hasilnya sama aja ….tidak ada tiket ke Fak-Fak. Sialan.
Tulisannya belum selesai, bersambung. Ini sambungannya:
Malam harinya puter-puter kota Sorong liat-liat …. sepi. Lalu makan di warung seafood dekat pantai, katanya sih itu warung yang paling baik untuk makanan seafood di Sorong. Menu utama makan ikan laut …lupa apa namannya yang jelas di bakar karena dengan di bakar kandungan kolestrol nya tetap rendah. Beda kalau di goreng …. kandungan kolestrol nya meningkat drastis, tidak baik untuk kesehatan. Enak …kenyang trus minum sebotol bir sambil merokok marlboro putih…damai. Abis makan puter-puter cari tempat hiburan malam. Ketemu satu di dekat hotel tempat menginap tapi sayang sekali lagi tutup. Cari tempat lain ternyata tidak ada, ya udah lalu balik ke hotel mlunker di kamar liat tv sambil melamun dan tertidur. Esok paginya setelah sarapan teh manis panas+sebatang rokok tentunya lalu puter-puter lagi di kota Sorong. Semua sudut-sudut
kota dijelajahi sampai ke pasar-pasar. Puas di dalam kota lalu pergi ke daerah pedesaan yang berada di pingir kota. Terlihat sekali perbedaan disini, rumah-rumah penduduk mayoritas terbuat dari kayu dan berdiri di atas rawa-rawa. Kemudian pergi ke pantai yang biasa digunakan untuk tempat berwisata. Gak sampai satu jam pakai mobil sudah sampai itu di pantai. Sepi, tidak terlihat tanda-tanda tempat ini dipakai untuk liburan, warung pun tak ada. Pantainya cukup bagus tapi ya jangan bandingin dengan yang di
Bali. Pulang dari pantai aku minta untuk pakai jalan yang memutar melewati pedesaan. Desa pingir pantai pada umumnya tetapi Pak Sopir yang asli orang Papua bilang kalau penduduk disitu alas tidurmya pakai pasir … wehhh apa maksudnya tanyaku, lalu dia menjelaskan kalau itu memang sudah adat umumnya orang disitu tidur beralas pasir. Mereka ada tempat khusus di dalam rumah untuk tidur yang diisi pasir untuk tidur. Pasir itu di ganti secara berkala dengan pasir baru yang diambil dari pantai. Oooo …begitu. Satu lagi yang perlu diperhatikan kata Pak Sopir, hati-hati kalau di jalan jangan sampai menabrak hewan piaraan masyarakat setempat. Kalau sampai menabrak dijamin urusannya akan panjang, tidak cukup dengan memberi uang 50 ribu untuk ganti ayam yang ketabrak misalnya. Pokoknya jangan sampai nabrak aja, begitu nasehatnya dan akupun mangut-mangut.Sesampai di kota puter-puter kota-kota lagi trus makan di warung seafood di dekat pantai lagi, kota Sorong letaknya di tepi pantai dan ada pelabuhannya, kali ini makan lobster gede banget …. nyam-nyam gurih. Abis makan jalan-jalan ke pelabuhan liat-liat kapal-kapal yang lagi bersandar berlabuh sambil menghirup segarnya angin laut sore hari. Anginya silir terasa enak di kulit semriwing. Udah puas lalu balik ke hotel, nongkrong di lobi sejenak sambil minum teh hangat dan merokok dulu donk sambil ngelirik resepsionis hihihi…., malemnya istirahat aja, liat tipi dan bikin catatan-catatan.
Esoknya pagi-pagi setelah packing barang bawaan turun ke lobi dan sarapan tidak lupa minum teh panas+sebatang marlboro putih. Tepat jam setengah 9 pagi cabut dari hotel ke bandara untuk melanjutkan langkah ke kota Timika. Jadwal penerbangan dari Sorong ke Timika jam 10 pagi dengan rute lewat Manokwari, Jayapura lalu baru sampai Timika. Sesampai di Manokwari ada pengumuman dari pilot kalau rute pesawat akan terbang ke Biak dulu sebelum ke Jayapura karena ada alasan operasional. Aku tidak terlalu memusingkan sedikit perubahan rute itu. Tetapi setelah sampai di bandara kota Biak, bandara kota Biak ini cukup besar karena sebelum krisis moneter merupakan bandara internasional, baru aku tahu kalau yang di maksud alasan operasional itu adalah itu pesawat mau mengangkut penumpang baru …. weleh-weleh ini kan bukan yang seharusnya …. kayak bis kota aja yang bisa muter sana-sini untuk cari penumpang. Abis itu terbang lagi menuju Timika, transit di kota Jayapura.Selama penerbangan dari Sorong sampai di Timika, pemandangan dari jendela pesawat indah sekali….so beautiful like a landcape painting in the sky ….hehehe mengutip syairnya vokalis Queen, Freddy Mercury yang meningal karena AIDS. Sejauh mata memandang yang ada adalah warna hijau pepohonan yang amat lebat so green and peace…. ini benar-benar hutan belantara, hijau dan lebat sekali. Kadang-kadang di tengah lebatnya hijau hutan itu terdapat sungai besar dengan airnya yang coklat meliuk-liuk seperti ular naga raksasa memeluk bukit-bukit dengan mesranya. Benar-benar indah!!! Aku bukan pujangga gak tau lagi gimana melukiskan keindahan alam Papua yang begitu eksotis sampai membuat dada berdesir. Pesanku buatmu; FUCK THE ILLEGAL LOGGING!
Tiba di bandara kota Timika sudah ada yang menjemput langsung menuju hotel Sheraton, hotel paling bagus di Timika. Dan buatku ya memang bagus beneran, sampai di hotel setelah mampir urusan administrasi di lobi langsung meluncur diantar ke sebuah kamar besar yang berlantai dari kayu dan ada balkon yang langsung menghadap ke hutan. Jalan antar bangunan di hotel ini semua di tutupi oleh klambu anti nyamuk. Setelah cuci muka, bikin teh panas+merokok lalu pergi ke alam mimpi tidur memeluk guling.
Sorenya pergi ke tempat tingal teman maen waktu kuliah di Jogja yang kerja di Grasberg kaki Cartenzs. Itu teman tingal di pingir kota Timika tidak jauh dari tempat aku menginap, 10 ribu tarif Papua naek ojek sampai kata dia. Memang tidak sulit menemukan tempat tingalnya, disana dia menyambutku datang bersama istrinya tercinta yang sedang hamil muda. Senang sekali bisa bertemu mereka, kami ngobrol kesana-kemari tentang apa saja, teman-teman semasa kuliah, pekerjaan, aku yang tidak punya pacar setelah putus hampir tiga tahun dan semuanya. Lalu datang satu lagi teman dan susana pun bertambah hangat sore itu. Setelah hari beranjak malam aku pamit untuk kembali ke tempat menginap…..sampai ketemu lagi kawan ….nanti pas libur di Jogja ucap kami waktu berpisah.
Sampai di hotel lalu mandi trus mangan dab! dalat+lotse, lalu pergi liat-liat kota Timika di malam hari mampir di tempat hiburan malam dengerin satu lagu lalu pergi lagi, aku gak tahan ruangan yang pengap dan terlalu penuh asap rokok … baunya gak enak. Balik ke hotel dan minum di Bar. Lumayan ok tempatnya, ada band dari Bandung yang maen, musiknya baik. Setelah puas denger musik itu band dan tak terasa dua botol Corona campur irisan jeruk udah abis ku minum, menjelang tengah malam balik ke kamar dan beristirahat. Tidak lupa melamun sambil bikin catatan sebelum tidur.Pagi hari minum kopi expresso single di balkon sambil merokok. Tepat di depan mata udah hutan lebat pepohonan dengan suara-suara binatang, asik juga suasana kayak gini …. kadang begitu hening, keheningan yang sama sekali tidak bisa diberikan oleh Jakarta. Abis itu pergi ke Kuala Kencana, liat-liat ke kota milik Freeport. Tempat itu bagus dan bersih sekali, sangat terawat. Aku tidak merasa seperti di Papua tetapi seperti di salah satu kota kecil di Eropa. Kuala kencana kembali kulihat beberapa waktu lalu waktu nonton film nya Ari Sihasale, Denias. Tempat Denias main bola itu ya di Kuala Kencana, lapangan bolanya pake karpet hijau.
Setelah puter-puter mbulet-mbulet sana-sini ke semua sudut Kuala Kencana lalu aku minta Pak Sopir untuk pergi ke desa yang ada di sekitar situ. Kutekankan benar-benar tentang definisi desa padanya bahwa aku tidak ingin melihat sebuah desa turis melainkan desa yang benar-benar desa apa adanya orang Papua. Tidak lama kemudian dia membawaku benar ke suatu daerah yang ketemui rumah-rumah asli model Papua. Tempat itu tidak sebegitu jauh dari Kuala Kencana. Rumah-rumah itu begitu kecil-kecil terbuat dari papan kayu dan sebagian dari sejenis tumbuhan ato rumput-rumputan yang dikeringkan kalau tidak salah namannya Honai, bukan Honey. Begitu jauh berbeda dengan pemandangan yang kulihat dengan yang di Kuala Kencana. Aku terharu melihat rumah-rumah itu …. dadaku menjadi sesak dan gigiku mulai gemeretak. Tidak tahu kenapa, cuman aku merasa tidak rela mereka tingal di tempat seperti itu. Aku bukan penganut nasionalisme sempit tapi ini adalah tanah Ibu Pertiwi, tanah air beta dan aku tahu benar bahwa perusahaan raksana multinasional pertambangan emas, tembaga maupun energi minyak dan gas banyak yang beroperasi keruk-keruk dungkir-dungkir di tanah pulau ini. Kemanakah gerangan hasil alam yang melimpah ruah itu semua …… tanyakan saja pada rumput yang bergoyang …. atau ke Prof. Amin Rais kemungkinan besar beliau tahu jawabnya.
Balik ke kota Timika beli 2 botol air buah merah. Buah ini katanya mengandung aktioksidan yang tinggi sehingga baik untuk meningkatkan kekebalan tubuh. Aku tidak tertarik untuk membeli souvenir. Beli buah merah itu pun karena pesanan dari teman cewe mahasiswa UI yang les bareng di Goethe Institut. Tubuhnya kecil dan mengeluh perutnya sering sakit karena maag.Balik ke hotel istirahat, malemnya balik ke Kuala Kencana buat makan, cuman pengin tahu aja ada apa disana malam hari, gak ada apa-apa, makan aja. Balik hotel lagi lalu dengerin musik di Bar, ternyata masih itu band dari
Bandung yang maen. Ngobrol sama penyanyinya di antara jeda lagu sambil minum dan makan makanan kecil. Lewat tengah malam balik ke kamar dan langsung tekapar tidur pulas. Esok hari rencananya mau liat ke lokasi pertambangan Freeport, sudah sewa jeep dengan stiker khusus dan ijin katanya udah ok. Pagi hari janjinya berangkat di jemput jam 9 pagi. Tunggu lama jam 10 lebih itu orang yang jemput bawa jeep baru datang ….. sialan, aku bilang sama itu orang kalau selera udah hilang dan gak jadi sewa aja. Titik.Akhirnya seharian santai di hotel aja, hingga siang hari duduk-duduk di Bar dekat kolam renang sambil makan dan minum. Abis itu liat tari-tarian Papua yang pakai baju adat dan bermain musik tradisional …… asik sekali liat mereka menari dan bernyanyi …… damai kami sepanjang hari. Sorenya buat duduk-duduk di balkon liat lebatnya hutan, teh panas+rokok sambil bikin catatan-catatan…..santai aja. Malemnya lagi-lagi ke Bar dengerin musik dan minum Corona campur irisan jeruk puas-puas. Kepala berat tapi tidur pules.
Esoknya pagi jam 09.30 pagi waktu Timika setelah urusan administrasi selesai lalu cabut ke bandara Timika untuk terusin langkah kaki ke kota Biak. Penerbangan dari Timika ke Biak transit di Jayapura. Lagi-lagi aku terpesona oleh indahnya pulau ini dari kaca jendela pesawat terbang. Sampai di Biak langsung menuju di tempat menginap di kota dan beristirahat. Malemnya makan seafood …enak tenan di warung milik orang Cina yang jaga warung anak perempuan pemilik dan cakep …seger di pandang mata. Abis makan iseng-iseng pergi ke tempat karaoke …. weleh-weleh ….gak sampai satu jam lalu cabut balik ke hotel karena gak mood dengan itu tempat. Esok hari dan hari berikutnya puter-puter ke seluruh kota Biak dan sekitarnya, semua di ubek-ubek ampe abis sampai badan pegel semua tapi senang …. enak gila. Liat pelabuhan dan sedikit berkeliling pulau. Pergi juga ke sebuah bangunan bekas hotel bintang lima di pingiran kota Biak di pingir pantai yang itu hotel ditingal pemiliknya …. besar banget tapi kosong gak ada apa-apanya …persis kayak rumah hantu …dan kata orang sekitar sih memang begitu. Bayangin aja sebuah hotel bintang lima ratusan kamar fasilitas lengkap dengan bungalow, kolam renang de el el semua ada disitu di tingal kosong gitu aja.
Waktu berlalu tak terasa udah sekitar setengah bulan muter-muter di Papua. Waktu mau balik ke Jakarta udah pegang tiket Merpati tus rencana mau ganti Garuda …ehh sama Merpati malah itu tiket di up grade ke kelas Bisnis …. ya jelas gak jadi ganti garuda dunk. Akhirnya balik keJakarta pakai Merpati dengan kelas bisnis……. tp harga ekonomi ……..damai. Ke Jakarta aku kan kembali.








