jump to navigation

Road to Papua Januari 2, 2007

Posted by bayuleo in Jalan2.
trackback

Damai Kami Sepanjang Hari

Perjalanan ini terasa amat menyedihkan…Sayang kau tak duduk disampingku kawan….Banyak cerita yang mestinya kau saksikan….Di tanah kering bebatuan………Tubuhku terguncang di hempas batu jalanan….(Ebiet G. Ade)

Pagi-pagi sekitar jam enam tiba di bandara di kota Sorong, setelah penerbangan yang melelahkan dari Jakarta karena transit dinihari beberapa jam di Ujung Pandang. Lega rasanya sampai di tempat tujuan dan bisa kembali menghirup segarnya udara pagi. Mata berat karena mengantuk dan ingin cepat-cepat sampai di hotel untuk merebahkan badan di tempat tidur dan beristirahat.

Namun sayang keinginanku untuk cepat-cepat keluar dari bandara tidak terpenuhi karena harus antri menunggu satu koper di bagasi. Jangan membayangkan menunggu barang seperti di bandara Cengkareng Jakarta dimana kita tingal tunggu barang yang datang mengalir lewat mesin yang terus berputar menghantarkan koper ke depan hidung kita. Disini masih manual, barang datang dari pesawat diangkut dan di tempatkan di sebuah ruangan, tepatnya sebuah kamar yang ukurannya kecil, lalu beberapa petugas memeriksa nomor yang ada di setiap barang-barang tersebut sambil berteriak, nah para penumpang yang mau mengambil barang, yang merasa nomornya cocok kemudian mengambil barang mereka masing-masing. Banyak yang antri berdesak-desakan dan aku salah satunya yang berada di antrian itu.

Cukup lama menunggu hingga sempat timbul perasaan kuatir jangan-jangan koper itu nyangkut entah kemana. Setelah antrian hampir habis baru akhirnya kudapat itu koper. Bergegas aku berjalan ke luar pintu bandara dan jemputan sudah menunggu. Sempat terbersit sedikit rasa kuatir kalau tergigit nyamuk karena kebetulan tidak pakai baju lengan panjang. Katanya malaria di pulau ini cukup ganas. Kutenangkan hati dengan berkata pada diri sendiri kalau sesampai di hotel abis sarapan akan ku minum itu obat anti malaria yang kubawa dari Jakarta, segepok tablet dari dokter. Katanya harus diminum sehari sebutir dan usahakan pada waktu yang sama artinya kalau kemarin aku minum itu obat setelah makan siang berarti hari ini juga harus setelah makan siang. Tiga hari sebelum berangkat aku sudah diminta minum itu obat oleh dokter dan aku meminumnya selalu setelah makan pagi.

Tidak sampai tiga puluh menit sudah sampai di hotel. Samasekali tidak seperti bayangan yang ada di benakku sebelumnya. Katanya hotel ini adalah hotel yang paling bagus di kota Sorong, buatku ini tidak lebih dari sebuah hotel melati. Setelah sarapan sepotong roti dan secangkir teh hangat plus pil anti malaria, segera ku terbang ke dunia mimpi……tidoer.

Siang hari bangun tidur abis mandi langsung pergi ke agen perwakilan Merpati untuk cari tiket pesawat ke kota Fak-Fak. Sayang sekali tidak ada tiket yg tersisa. Aku mau ke Fak-Fak dua malem saja.  Sebelumnya sudah berusaha untuk booking dari Jakarta ternyata susah dan disarankan untuk langsung beli aja ketika di Sorong. Di sini pun ternyata tidak mudah untuk cari tiket pesawat ke Sorong karena pesawat yang bisa terbang ke sana hanya ada pesawat jenis Twin Otter yang cuman muat gak lebih dari 18 orang. Aku pergi ke beberapa travel agen lain tapi hasilnya sama aja ….tidak ada tiket ke Fak-Fak. Sialan.

Tulisannya belum selesai, bersambung. Ini sambungannya:

Malam harinya puter-puter kota Sorong liat-liat …. sepi. Lalu makan di warung seafood dekat pantai, katanya sih itu warung yang paling baik untuk makanan seafood di Sorong. Menu utama makan ikan laut …lupa apa namannya yang jelas di bakar karena dengan di bakar kandungan kolestrol nya tetap rendah. Beda kalau di goreng …. kandungan kolestrol nya meningkat drastis, tidak baik untuk kesehatan. Enak …kenyang trus minum sebotol bir sambil merokok marlboro putih…damai. Abis makan puter-puter cari tempat hiburan malam. Ketemu satu di dekat hotel tempat menginap tapi sayang sekali lagi tutup. Cari tempat lain ternyata tidak ada, ya udah lalu balik ke hotel mlunker di kamar liat tv sambil melamun dan tertidur. Esok paginya setelah sarapan teh manis panas+sebatang rokok tentunya lalu puter-puter lagi di kota Sorong. Semua sudut-sudut
kota dijelajahi sampai ke pasar-pasar. Puas di dalam kota lalu pergi ke daerah pedesaan yang berada di pingir kota. Terlihat sekali perbedaan disini, rumah-rumah penduduk mayoritas terbuat dari kayu dan berdiri di atas rawa-rawa. Kemudian pergi ke pantai yang biasa digunakan untuk tempat berwisata. Gak sampai satu jam pakai mobil sudah sampai itu di pantai. Sepi, tidak terlihat tanda-tanda tempat ini dipakai untuk liburan, warung pun tak ada.  Pantainya cukup bagus tapi ya jangan bandingin dengan yang di
Bali. Pulang dari pantai aku minta untuk pakai jalan yang memutar melewati pedesaan. Desa pingir pantai pada umumnya tetapi Pak Sopir yang asli orang Papua bilang kalau penduduk disitu alas tidurmya pakai pasir … wehhh apa maksudnya tanyaku, lalu dia menjelaskan kalau itu memang sudah adat umumnya orang disitu tidur beralas pasir. Mereka ada tempat khusus di dalam rumah untuk tidur yang diisi pasir untuk tidur. Pasir itu di ganti secara berkala dengan pasir baru yang diambil dari pantai. Oooo …begitu. Satu lagi yang perlu diperhatikan kata Pak Sopir, hati-hati kalau di jalan jangan sampai menabrak hewan piaraan masyarakat setempat. Kalau sampai menabrak dijamin urusannya akan panjang, tidak cukup dengan memberi uang 50 ribu untuk ganti ayam yang ketabrak misalnya. Pokoknya jangan sampai nabrak aja, begitu nasehatnya dan akupun mangut-mangut.
Sesampai di kota puter-puter kota-kota lagi trus makan di warung seafood di dekat pantai lagi, kota Sorong letaknya di tepi pantai dan ada pelabuhannya, kali ini makan lobster gede banget …. nyam-nyam gurih. Abis makan jalan-jalan ke pelabuhan liat-liat kapal-kapal yang lagi bersandar berlabuh  sambil menghirup segarnya angin laut sore hari. Anginya silir terasa enak di kulit semriwing. Udah puas lalu balik ke hotel, nongkrong di lobi sejenak sambil minum teh hangat dan merokok dulu donk sambil ngelirik resepsionis hihihi…., malemnya istirahat aja, liat tipi dan bikin catatan-catatan.

Esoknya pagi-pagi setelah packing barang bawaan turun ke lobi dan sarapan tidak lupa minum teh panas+sebatang marlboro putih. Tepat jam setengah 9 pagi cabut dari hotel ke bandara untuk melanjutkan langkah ke kota Timika. Jadwal penerbangan dari Sorong ke Timika jam 10 pagi dengan rute lewat Manokwari, Jayapura lalu baru sampai Timika. Sesampai di Manokwari ada pengumuman dari pilot kalau rute pesawat akan terbang ke Biak dulu sebelum ke Jayapura karena ada alasan operasional. Aku tidak terlalu memusingkan sedikit perubahan rute itu. Tetapi setelah sampai di bandara kota Biak, bandara kota Biak ini cukup besar karena sebelum krisis moneter merupakan bandara internasional, baru aku tahu kalau yang di maksud alasan operasional itu adalah itu pesawat mau mengangkut penumpang baru …. weleh-weleh ini kan bukan yang seharusnya …. kayak bis kota aja yang bisa muter sana-sini untuk cari penumpang. Abis itu terbang lagi menuju Timika, transit di kota Jayapura.Selama penerbangan dari Sorong sampai di Timika, pemandangan dari jendela pesawat indah sekali….so beautiful like a landcape painting in the sky ….hehehe mengutip syairnya vokalis Queen, Freddy Mercury yang meningal karena AIDS. Sejauh mata memandang yang ada adalah warna hijau pepohonan yang amat lebat so green and peace…. ini benar-benar hutan belantara, hijau dan lebat sekali. Kadang-kadang di tengah lebatnya hijau hutan itu terdapat sungai besar dengan airnya yang coklat meliuk-liuk seperti ular naga raksasa memeluk bukit-bukit dengan mesranya. Benar-benar indah!!! Aku bukan pujangga gak tau lagi gimana melukiskan keindahan alam Papua yang begitu eksotis  sampai membuat dada berdesir. Pesanku buatmu; FUCK THE ILLEGAL LOGGING!

Tiba di bandara kota Timika sudah ada yang menjemput langsung menuju hotel Sheraton, hotel paling bagus di Timika. Dan buatku ya memang bagus beneran, sampai di hotel setelah mampir urusan administrasi di lobi langsung meluncur diantar ke sebuah kamar besar yang berlantai dari kayu dan ada balkon yang langsung menghadap ke hutan. Jalan antar bangunan di hotel ini semua di tutupi oleh klambu anti nyamuk. Setelah cuci muka, bikin teh panas+merokok lalu pergi ke alam mimpi tidur memeluk guling.

Sorenya pergi ke tempat tingal teman maen waktu kuliah di Jogja yang kerja di Grasberg kaki Cartenzs. Itu teman tingal di pingir kota Timika tidak jauh dari tempat aku menginap, 10 ribu tarif Papua naek ojek sampai kata dia. Memang tidak sulit menemukan tempat tingalnya, disana dia menyambutku datang bersama istrinya tercinta yang sedang hamil muda. Senang sekali bisa bertemu mereka, kami ngobrol kesana-kemari tentang apa saja, teman-teman semasa kuliah, pekerjaan, aku yang tidak punya pacar setelah putus hampir tiga tahun dan semuanya. Lalu datang satu lagi teman dan susana pun bertambah hangat sore itu. Setelah hari beranjak malam aku pamit untuk kembali ke tempat menginap…..sampai ketemu lagi kawan ….nanti pas libur di Jogja ucap kami waktu berpisah.

Sampai di hotel lalu mandi trus mangan dab! dalat+lotse, lalu pergi liat-liat kota Timika di malam hari mampir di tempat hiburan malam dengerin satu lagu lalu pergi lagi, aku gak tahan ruangan yang pengap dan terlalu penuh asap rokok … baunya gak enak. Balik ke hotel dan minum di Bar. Lumayan ok tempatnya, ada band dari Bandung yang maen, musiknya baik.  Setelah puas denger musik itu band dan tak terasa dua botol Corona campur irisan jeruk udah abis ku minum, menjelang tengah malam balik ke kamar dan beristirahat. Tidak lupa melamun sambil bikin catatan sebelum tidur.Pagi hari minum kopi expresso single di balkon sambil merokok. Tepat di depan mata udah hutan lebat pepohonan dengan suara-suara binatang, asik juga suasana kayak gini …. kadang begitu hening, keheningan yang sama sekali tidak bisa diberikan oleh Jakarta. Abis itu pergi ke Kuala Kencana, liat-liat ke kota milik Freeport. Tempat itu bagus dan bersih sekali, sangat terawat. Aku tidak merasa seperti di Papua tetapi seperti di salah satu kota kecil di Eropa. Kuala kencana kembali kulihat beberapa waktu lalu waktu nonton film nya Ari Sihasale, Denias. Tempat Denias main bola itu ya di Kuala Kencana, lapangan bolanya pake karpet hijau. 

Setelah puter-puter mbulet-mbulet sana-sini ke semua sudut Kuala Kencana lalu aku minta Pak Sopir untuk pergi ke desa yang ada di sekitar situ. Kutekankan benar-benar tentang definisi desa padanya bahwa aku tidak ingin melihat sebuah desa turis melainkan desa yang benar-benar desa apa adanya orang Papua. Tidak lama kemudian dia membawaku benar ke suatu daerah yang ketemui rumah-rumah asli model Papua. Tempat itu tidak sebegitu jauh dari Kuala Kencana. Rumah-rumah itu begitu kecil-kecil terbuat dari papan kayu dan sebagian dari sejenis tumbuhan ato rumput-rumputan yang dikeringkan kalau tidak salah namannya Honai, bukan Honey. Begitu jauh berbeda dengan pemandangan yang kulihat dengan yang di Kuala Kencana. Aku terharu melihat rumah-rumah itu …. dadaku menjadi sesak dan gigiku mulai gemeretak. Tidak tahu kenapa, cuman aku merasa tidak rela mereka tingal di tempat seperti itu. Aku bukan penganut nasionalisme sempit tapi ini adalah tanah Ibu Pertiwi, tanah air beta dan aku tahu benar bahwa perusahaan raksana multinasional pertambangan emas, tembaga maupun energi minyak dan gas banyak yang beroperasi keruk-keruk dungkir-dungkir di tanah pulau ini. Kemanakah gerangan hasil alam yang melimpah ruah itu semua …… tanyakan saja pada rumput yang bergoyang …. atau ke Prof. Amin Rais kemungkinan besar beliau tahu jawabnya.

Balik ke kota Timika beli 2 botol air buah merah. Buah ini katanya mengandung aktioksidan yang tinggi sehingga baik untuk meningkatkan kekebalan tubuh. Aku tidak tertarik untuk membeli souvenir. Beli buah merah itu pun karena pesanan dari teman cewe mahasiswa UI yang les bareng di Goethe Institut. Tubuhnya kecil dan mengeluh perutnya sering sakit karena maag.Balik ke hotel istirahat, malemnya balik ke Kuala Kencana buat makan, cuman pengin tahu aja ada apa disana malam hari, gak ada apa-apa, makan aja. Balik hotel lagi lalu dengerin musik di Bar, ternyata masih itu band dari
Bandung yang maen. Ngobrol sama penyanyinya di antara jeda lagu sambil minum dan makan makanan kecil. Lewat tengah malam balik ke kamar dan langsung tekapar tidur pulas. Esok hari rencananya mau liat ke lokasi pertambangan Freeport, sudah sewa jeep dengan stiker khusus dan ijin katanya udah ok. Pagi hari janjinya berangkat di jemput jam 9 pagi. Tunggu lama jam 10 lebih itu orang yang jemput bawa jeep baru datang ….. sialan, aku bilang sama itu orang kalau selera udah hilang dan gak jadi sewa aja. Titik.
Akhirnya seharian santai di hotel aja, hingga siang hari duduk-duduk di Bar dekat kolam renang sambil makan dan minum. Abis itu liat tari-tarian Papua yang pakai baju adat dan bermain musik tradisional …… asik sekali liat mereka menari dan bernyanyi …… damai kami sepanjang hari. Sorenya buat duduk-duduk di balkon liat lebatnya hutan, teh panas+rokok sambil bikin catatan-catatan…..santai aja. Malemnya lagi-lagi ke Bar dengerin musik dan minum Corona campur irisan jeruk puas-puas. Kepala berat tapi tidur pules.

Esoknya pagi jam 09.30 pagi waktu Timika setelah urusan administrasi selesai lalu cabut ke bandara Timika untuk terusin langkah kaki ke kota Biak. Penerbangan dari Timika ke Biak transit di Jayapura. Lagi-lagi aku terpesona oleh indahnya pulau ini dari kaca jendela pesawat terbang. Sampai di Biak langsung menuju di tempat menginap di kota dan beristirahat. Malemnya makan seafood …enak tenan di warung milik orang Cina yang jaga warung anak perempuan pemilik dan cakep …seger di pandang mata. Abis makan iseng-iseng pergi ke tempat karaoke …. weleh-weleh ….gak sampai satu jam lalu cabut balik ke hotel karena gak mood dengan itu tempat. Esok hari dan hari berikutnya puter-puter ke seluruh kota Biak dan sekitarnya, semua di ubek-ubek ampe abis sampai badan pegel semua tapi senang …. enak gila. Liat pelabuhan dan sedikit berkeliling pulau. Pergi juga ke sebuah bangunan bekas hotel bintang lima di pingiran kota Biak di pingir pantai yang itu hotel ditingal pemiliknya …. besar banget tapi kosong gak ada apa-apanya …persis kayak rumah hantu …dan kata orang sekitar sih memang begitu. Bayangin aja sebuah hotel bintang lima ratusan kamar fasilitas lengkap dengan bungalow, kolam renang de el el semua ada disitu di tingal kosong gitu aja.

Waktu berlalu tak terasa udah sekitar setengah bulan muter-muter di Papua. Waktu mau balik ke Jakarta udah pegang tiket Merpati tus rencana mau ganti Garuda …ehh sama Merpati malah itu tiket di up grade ke kelas Bisnis …. ya jelas gak jadi ganti garuda dunk. Akhirnya balik keJakarta pakai Merpati dengan kelas bisnis……. tp harga ekonomi ……..damai. Ke Jakarta aku kan kembali.

Komentar»

1. jtabah - Januari 5, 2007

di tunggu cerita perjalanan selanjutnya. tentu kalo sudah nemu internet. :)

2. bayuleo - Januari 5, 2007

weekend ini tak usahain selesai Om…cerita yg tak ada duanya :-)

3. passya - Januari 5, 2007

welkam to wordpress ! pesan koteka yang ukuran… :D

4. fertobhades - Januari 6, 2007

Waduh… SORONG, kota kelahiranku. Kapan aku kesana ya ?

Main-main ke Tembok Berlin, mas ? Atau ke Tanjung Kasuari ? Cobalah ke Kepulauan Raja Ampat (Pulau Waigeo, dan sekitarnya) dan nikmati keindahan taman lautnya.

cuma satu kata : Amazing…!!!!

5. bayuleo - Januari 7, 2007

aku gak bisa diving mas, belum belajar, jd gak ke kep. raja ampat, satu saat pengin kesana sekalian mo coba resort yg di kelola orang dari belanda itu …

6. Edo - Januari 10, 2007

Wah mengesankan skali pengalaman lu balik kampung yah? He..he mana oleh2nya, buah merah? Buah itu merah jenderal!!! Kabarnya di Irian metode bambu ala mak erot dah duluan dilakuin orang. Ga tau deh kali ga di patent kan jadinya ya gitu. Obrigado Irian…!

7. Sorong - Februari 14, 2007

ah si mas ini, kalo mendengar cerita ttg kota sorong, kayaknya gak seperti yang di kau bicarakan deh…. Gak seburuk itu kok,,,,, coba aja datang lagi sekarang…Gw sebagai orang sorong, sangat tersinggung……

8. Yuni - Maret 8, 2007

Wah Sorong itu kota kelahiran gw tuh…. ,
kenapa gak ke pulau matan? pulau kecil di dekat jeffman (airport sebelum DEO) di jamin memuaskan deh, 1 pulau kecil tanpa penghuni….

9. bayuleo - Maret 11, 2007

wueh …kayak cast away nya tom hanks …. yuni mo nemenin gak?

10. Doni wandini - April 16, 2007

aku ingin berlibur ke raja ampat tapi ga ada travel yang perg liburan atau paket kesana, tolong dibantu.. aku rencana berangkat 10 orang. aku doni mahasiswa Politeknik Universitas Indonesia. tolong dibantu informasi mengenai transportasi,akomodasi,dan biayanya.. untuk 3 hari 2 malam. terima kasih. informasinya secepatnya ditunggu.

11. bayuleo - April 16, 2007
12. meitop - Mei 14, 2007

wah ceritane banyak betul bro…tapi kok yang baku itap dengan Unta Mesir disensor bro???? hehehe

13. dewi - Agustus 31, 2007

cerita nya menarik sekali….
karena saya pernah pergi ke beberapa kota yang sama spt anda lakukan,spt Sorong, Manokwari, dan Timika..,tapi saya pernah sampai ke Tembaga Pura…,mustinya anda jng batalkan trip itu..sangat menarik..

Trip saya ke sorong dan manokwari adalah diving trip..

ditunggu cerita sambungan nya…

14. dhafa - November 15, 2007

Mampir jg ke Ternate,nanti maen Ke Pulau halmahera…
Kl dari dr JKt…mending mampir dulu ke Ternate…br lanjut ke papua..kt keliling pulau halmahera…

15. dhafa - November 15, 2007

Kl dari dr JKt…mending mampir dulu ke Ternate…br lanjut ke papua..kt keliling pulau halmahera…

16. Ronny - Desember 22, 2007

nanti saja kalo mau pulkam

17. Abio Sitohang - Mei 18, 2008

Iya nih,,
napa g mampir aja di Ternate?
dsna dah ada Hotel bntang 5 dgn kwlitas terbaik untk Indnesia Tmur.
pkok’na hmpir mrip Mnado dhe!
seru…
aPlagi kalau nginep p Amara International Hotel, bisa liat gbr d uwg seribuan scara nyata.
saya sh aslinya org medan, tapi knp yh jd betah bgt d Ternate?!
skdar pRomosi nh, dsana dh ada Pusat Bisnis,..
pkok’na miriplah dgn Ambon, Manado, Mkassar, dll
tRus, adat kerajaan’nya tuh kentaL baget!
(kayak hidup d zman Majapahit gtu)

trus, Ternyata org Ternate itu ptih2 loh,
jgn salah, masyarakatnya sopan bgt dah

Gmn bung, mw ke Ternate g?

18. jhe & lya - Juli 13, 2008

gw jhe tahun depan gw bakal HONEY MOOM di RAJA AMPAT ok so RAJA AMPAT tunggu gw ya

jhe & lya

19. vano - Februari 7, 2009

mang papua indah bangt…,aq jg prnh ke manokwari,perjalanan dr makasar ke manokwari buat kita takjub…,wouuuuw indah dh ga bisa dgn kata2…,