The Song of Hiawata Januari 5, 2007
Posted by bayuleo in Kehidupan.trackback
The song of Hiawata: sebuah persembahan untuk sahabatku, Edo di Amsterdam.
Semakin aku berfikir seiring dengan jalannya hidup dan pengalaman yang kulalui aku tersadar bahwasannya semakin sedikit aku mengetahui tentang dunia ini, tentang kehidupan. Begitu banyak kepalsuan yang terhampar. Tidak disini tapi juga disana, dimana-mana saja. Nyaris tiada warna putih, yang ada hanya hitam pekat dan hitam, sedikit saja yang abu-abu.
Sama sekali tak dapat dimengerti bahwasannya kehidupan manusia benar-benar begitu kejam dimana tetesan keringat, darah, bahkan cucuran airmata sekalipun tak mampu menggugah hati yang telah membatu. Akal budi, nalar ternyata tidak banyak membantu untuk belajar dari sejarah. Ada yang hidup bergelimang harta, kemewahan yang tiada tara (entah dari mana asalnya) namun jiwanya telah mati. Ada yang berlaku melebihi keledai yang selalu terjatuh pada satu lubang yang sama, begitu terus berulang-ulang. Waktu tidak menghalangi manusia untuk menulis dan menulis ulang lembaran sejarah yang sama. Keserakahan
Memang demikian atau bagaimana. Selalu mencari dan mengharapkan yang tidak ada, yang ada di depan mata pun seolah tak berarti. Begitu hilang barulah terasa ada makna. Kenapa harus kehilangan terlebih dahulu baru bisa menghargai. Keluh kesah. Dan jika mimpi yang dulu begitu indah menjadi nyata, kenapa seolah menjadi biasa saja? Seketika muncul kilauan mimpi baru yang tak terbeli.
Keserakahan ternyata juga mengotori hubungan manusia dengan Sang Pencipta, puluhan juta dihamburkan untuk kunjungan berulang2 yang sudah berkurang maknanya dan berganti dengan keinginan2 untuk disebut dengan gelar si anu dan itu agar orang2 tau dan memuliakan, seraya memalingkan muka dari jutaan orang2 merintih kelaparan, yang harus kehilangan masa depan tanpa pendidikan, yang terpaksa menggadaikan raga, yang terpaksa menanti datangnya saat akhir dari kehidupan. Yang dipentingkan cuma aku, dan aku, hanya aku dan selalu aku.









Ada apa tho mas? kok sepertinya sedang melara duka meradang?
itu gara-gara sering bertemu dgn kemunafikan di mana-mana, koran, tv, internet….dimana-mana saja …….ggrrrhhhh….huaaaahhhh
hehehehe..dah bayar mahal2 kelaparan lagi..marah2 lagi..katanya baru ‘menghadap’…
hati-hati, nanti bisa kenah darah tinggi..tarif nafas..lepasin..banyak-banyak hirup nafas….
duh, ayo optimistik dong. life is beautiful and our world is good and fair kok! begitu sih menurut my belief
Wah thanx banget man gua terharu nih jadinya….hiks..hiks..sniff…snif…ga nyangka bahwa lo bakal make versi yang udah gua edit.
Lu sahabat sejati gua man, dimanapun & insha Allah sampai kapanpun. Gua udah kehilangan satu, gua akan mencoba tuk berlaku yang terbaik bagi sahabat2 gua yang masih ada. Saludos
bila kau merasa sedih melihat ketidak adilan maka kita adalah kawan..(ernesto che guevara)
kemunafikan, kerakahan, kejahatan dll saya kira itu adalah hal yang wajar.dalam keyakinan saya segala sesuatu itu diciptakan berpasangan dan biarkanlah kejujuran,keadilan, kerendah dirian, kebaikan melihat pasangannya juga layaknya malam yang ditenggelamkan siang.biarkan saja berproses, itu adalh fenomena hidup. jika tak ada yang seperti itu maka roda hidup takkan berputar.
@passya: iya tuh Om…saya jg binun

@jt: Om jt ini ngajarin dasar2 tae kwon do ato jiu jit su yak?
@Kang Adhi: butul Om …setuju deh
@Edo: hey dude … sempetin keliling eropa yak terutama ke chekoslovakia kl ada waktu & rajin belajar lo di amsterdam & jgn lupa bawa cewe yak kl balik ke indo
@antobilang: Om …and justice for all…kata metallica loh
@politea: kayak lagu nya john lenon (?) ..let it be ..let it be ..let it be …ya Om.