Sepekan di Milan Maret 23, 2007
Posted by bayuleo in Jalan2.27 comments
Perjalanan kali ini naek Lufthstansa, maskapai penerbangan Jerman. Gak seperti yang di bayangkan ternyata tempat duduknya agak kecilan, gak ada personal tv, cuman di kasih earphone doank buat dengerin musik….hemm….gak bisa maen game ato liat film….semaleman bakalan dengerin musik doank neh. Masih berharap semoga ntar waktu transit di Singapura pesawatnya ganti, tapi kayaknya sampai di Frankfurt bakalan dengerin musik mlulu di pesawat.
Transit di airport internasional Singapore aku sempetin untuk muter-muter sebentar minum kopi sambil menghisap dua batang Marlboro putih. Paru-paru pun berdendang & darahku terkekeh riang menikmati segarnya nikotin yang merayap perlahan. Ternyata benar pesawatnya sama aja, semaleman dari Singapore sampai airport Frankfurt, Jerman cuman dengerin musik doank….sekali lagi gak ada personal tv! Untungnya waktu masuk pesawat sempat menyambar setumpuk majalah dari kabin depan, ada Times, Newsweek dan beberapa koran regional. Jadi bisa baca-baca ampe mata berat dan tertidur.
Pagi-pagi benar keesokan harinya tiba di Frankfurt terus langsung mencari warung untuk minum kopi sejenak karena transit di airport ini cuman sebentar. Masih dengan maskapai penerbangan yang sama take off menuju ke aiport Linate, Italy. Beberapa saat setelah take off pramugarimenawarkan sarapan pagi….wah pas banget perut sudah lapar. Setelah mengucapkan selamat pagi pramugari itu dalam bahasa Inggris menawarkan mau sarapan dan minum apa. Aku jawab dalam bahasa Jerman kalau aku mau sarapan sandwich. Mendengar aku pakai bahasa Jerman diapun tersenyum lebar sampai gigi-gigi putihnya kelihatan, dengan lebih sumringah dia menyodorkan sarapan yang kuminta. Lalu ku bilang “Ich mochte eine dose Cola bitte” lalu diapun menyodorkan sekaleng kecil coca-cola ….hemm nyam-nyam…dalat-dalat…lotse-lotse.
Matahari mulai bersinar menyiram langit. Pemandangan lewat jendela pesawat seperti biasa awan putih bergulung-gulung memeluk lagit luas tak bertepi. Lalu ada pegunungan yang luas yang di dominasi oleh warna putih bersih karena tertutup salju. Sebagian nampak mengkilap berkilau karena di terpa sinar mentari pagi. Sejauh mata memandang ke bawah hanya warna putih menyelimuti pegunungan di selingi warna coklat keperakan warna sebagian badan gunung.
Tak seberapa lama kemudian pesawat landing dengan damai di airport Linate, Italy. Setelah ambil barang lalu aku menuju bagian depan airport. Dekat pintu keluar ada kantor informasi untuk turis. Aku tanya ke penjaganya kalau mau ke hotel St. Barbara naek apa. Dia bilang bisa sewa mobil seharga 32 Euro. Hemm…itu mah lebih dari 300 rb rp padahal ketika baca di Lonely Planet ke hotel tiu dari airport paling cuman sekitar 10 ato 15 menit naek taksi. Lalu aku jalan keluar dan langsung di sambut oleh para sopir taxi nanya mau kemana, aku bilang mau ke hotel St. Barbara dan kemudian mereka menjawab onkosnya 35 Euro sambil menunjukan daftar harga. Dalam hati ku bergumam sendiri ternyata disini sama saja ada calo taxi yang tarifnya tidak pakai argo. Lalu aku bilang aja gak jadi pakai taxi.
Udara di luar airport adem banget, cuaca cerah segar dan matahari pun nampak bersinar terang. Santai sejenak sambil menghisap sebatang rokok dan melihat-lihat sekitar. Betah rasanya menikmati dan menghirup udara disini. Setelah nyambung habis dua batang kuputuskan untuk menhisap sebatang lagi lalu baru cabut. Saat itu pula keluar dua pasang muda-mudi lalu berdiri di depanku sekitar empat ato tiga meter. Sekilas kuperhatikan mereka saling berciuman lama sekali cuek bebek aja dengan sekitar. Jadi kebayang andai saja ada cewe yang bisa dan mau menemani perjalanan-perjalanku……dulu ada tapi …ahh sudahlah.
Setelah mematikan puntung rokok aku kembali ke bagian informasi turis mau sewa mobil untuk ke hotel St. Barbara. Setelah bayar 32 Euro Pak sopir membawaku ke tempat parkir untuk ambil mobil. Pak sopir ini sudah setengah baya berpakaian rapi dan mengenakan mantel panjang berwarna hitam. Dia memintaku berhenti dan menunggu sebentar kemudian dia datang dengan Mercedes besar warna hitam. Sedikit terkejut karena kupikir mobilnya kayak taxi aja ternyata yang kusewa mobil empuk kayak gini. Sepanjang perjalanan aku duduk manis di belakang sambil menikmati pemandangan pingiran kota Milan dari balik kaca jendela. Sementara Pak sopir memutar musik sambil bersiul-siul sendiri. Sekitar 15 menit kemudian sudah sampai di hotel St. Barbara.
“Boungiorno” sapa resepsionis di lobi hotel. Setelah menyelesaikan administrasi akupu menuju kamar hotel, mandi air hangat lalu nonton tv terus tidur …bobok siang ….ssszzzzzz…
Bangun sore hari perut lapar. Turun ke lobi cari makan tapi tidak ada, hotel cuman menyediakan makan pagi dan jual minuman. Heran juga hotel yang tarifnya sekitar 100 Euro per malem kayak gini kok restoran cuman buka buat sarapan doank. Jalan-jalan ke luar muter sana muter sini gak ada warung yang buka…warung pizza pun gak ada juga, mungkin karena hari minggu pada libur. Setelah sekitar setengah jam muter-muter ketemu juga warung yang buka, Mcdonald. Enakan Mcdonald yang di Jakarta, disini rasanya hambar banget harus banyak-banyak kasih garam ama lada dan saosya pun rasanya laen. Habis makan jalan-jalan muter-muter lagi sekalian. Disini lalu lintas santai dan damai gak ada suara-suara klakson beterbangan memecah udara. Menyeberang jalan pun terasa aman, santai gak perlu tergesa-gesa. Sebagian besar pengendara mobil menghormati penyeberang jalan dengan segera melambat dan berhenti walau bukan di lampu merah. Setelah pegel jalan-jalan lalu balik ke hotel. Udara malem dinginnya mulai mengigit. Udara yang keluar dari mulut kelihatan seperti asap putih tipis ….haaaahhh …hoaahhhh ..hah. Mandi air hangat abis itu menghabiskan rangsum sambil nonton tv terus tidur mengunjungi dunia mimpi.
Keesokan harinya jalan-jalan di sekitar hotel kebetulan lagi ada pasar kaget hari libur. Banyak pernak-pernikkecil yang dijual di tempat ini sepanjang jalan kecil sepanjang kurang lebih dua kilometer. Penjualnya mempunyai tenda-tenda kecil di pingir jalan. Ada juga penjual roti untuk sarapan pagi. Aku beli sepotong roti besar lalu kumakan sambil jalan dan terus menikmati suasana ramai pagi itu di pingir sungai yang bersih dibawah hangatnya sinar mentari pagi. Pasar kaget itu kurang lebih sama dengan sekitaran bunderan UGM kampus tercinta love Jogja & You diwaktu libur hari Minggu yang penuh penjual makan untuk sarapan pagi dan juga pernak-pernik kecil lainnya seperti yang di jual di perko jalan Malioboro.
Siangnya balik ke hotel dan nonton tv sampai sore. Ada beberapa chanel yang memutar film bokep tapi harus bayar dulu sehari 8 Euro ..huhh males banget. Malemnya makan di restoran Italy di dekat hotel jalan kaki sekitar 10-15 menit. Semua menudi restoran itu pakai bahasa Italy lalu kuminta pelayan untuk menjelaskan itu menu isinya apa. Tapi sayang penjelasannya kurang membantu karena aku kurang bisa menangkap apa yang dia jelaskan. Lalu kupesan saja satu menu makanan yang ku bayangkan seperti steak dan segelas anggur merah. Ternyata bukan steak yang welldone tetapi sepiring besar daging sapi panas yang diiris datar agak besar-besar. Bau bumbunya harum menusuk hidung dan masih sedikit berasap …hemmm tidak seperti bayangan semula tapi ini juga ok dengan porsi jumbo dan daging semua. Diakhiri dengan meneguk anggur bersama sebatang rokok Marlboro putih.
Hari berikutnya pergi ke pusat kota Milan. Milan dalam bahasa Italy disebut Milano berasal dari bahasa latin Mediolanum yang berarti ditengah hamparan. Letak kota ini di bagian utara Iatly. Kalau tidak salah penduduknya sekitar 1.5 juta jiwa…bayangin dengan Jakarta yang katannya sekitar 12 juta jiwa …wuiiiihhh…..Milan mah kayak kampung sepinya kali di bandingin Jakarta. Katanya lagi kota ini merupakan salah satu pusat mode dunia. Sepanjang aku jalan kaki muter-muter kota ini memang banyak butik-buti dengan nama-nama terkenal. Tapi aku samasekali tidak tertarik dengan hal-hal seperti itu. Tengah hari makan di Mcdonald disamping Piazza Duomo.
Piazza Duomo itu kayak alun-alun. Kalau dilihat dari Mcdonald sebelah kiri ada mall tapi bangunannya tua namanya kalau tidak salah “Galleria Vittorio Emanuelle”. Katanya ini merupakan pusat perbelanjaan terbesar di Milan. Tapi kayaknya mall Taman Anggrek di Jakarta lebih gedean deh…tau ahh. Di salah satu bagian bangunan itu ada sebuah lorong yang besar yang dibagian dinding-dindingnya serta atap dindingnya ada banyak lukisan yang indah menyatu dilukis di permukaan dinding. Kali aja yang melukis Leonardo Da Vinci yang patungnya memang berdiri tegak di komplek itu ….entahlah mana kutahu.
Di sebelah kanan alun-alun itu ada toko-toko kecil dan kantor informasi turis di ujungnya. Di bagian tengah alun-alun ada patung besar dan disekitarnya ada banyak burung merpati yang terbang sana-sini wira-wiri. Dibagian depan ujung alun-alun ada Gereja tua besar namannya Duomo Cathedral. Ini Gereja katanya terbesar ketiga di dunia warnanya abu-abu muda dengan tinggi 108 meter dan panjang 158 meter. Bangunannya artistik dan katanya lagi dibangun pada abad 17 masehi.
Setelah puas puter-puter di komplek Piazza Duomo lalu pulang balik ke hotel istirahat. Malemnya makan nasi goreng seafood di restoran China plus mie goreng …hemmm…nyam-nyam …tetap lebih enak daripada Pizza. Seperti biasa kenyang abis makan lalu mlunker sambil nonton tv sampai tertidur.
Esok harinya diajak sama dua orang Phillipino untuk ke Piazza Duomo lagi. Itu orang Phillipino satu kerja di Port Harcourt, Nigeria dan satunya kerja di Kazakstan, kebetulan aja nginap sama-sama di hotel St. Barbara. Dari hotel jalan sekitar 15 menit ke terminal lalu naek kereta bawah tanah setelah beli karcis one way trip seharga 1 Euro. Kereta bawah tanah ini benar benar 100% anti macet kayak bus TransJakarta nya Bang Yos. Sesampai di Piazza Duomo cuaca agak kelabu, agak basah karena abis di guyur hujan rintik-rintik. Maen-maen dengan burung Merpati…..kasih mereka makan dan itu orang Phillipino di kerubutin Merpati….karena dia beri banyak jagung. Abis itu muter-muter di Galleria Vittorio Emanuelle beli kaos sepakbola AC Milan, satu bertuliskan Kaka & satunya Schevenko…hemm ..lumayan juga neh. Juga Beli dompet Eastpak warna biru…..Azuri….The Blues.
Hawa dingin cocok buat duduk-duduk sambil merokok sebatang Marlboro putih. Abis itu karena lapar makan di restoran China. Selama perjalanan menuju restoran, kurang lebih 15 menit dari Piazza Duomo, bertemu dengan banayk supporter sepakbola tapi mereka kayaknya bukan Holligan Inggris ataupun Italy karena dari seragamnya mereka mengenakan semacam rok tradisional Irlandia. Suana hidup sekali karena banyak yang pada minum-minum bir dengan gelas besar sekali sambil ngobrol dan tertawa keras-keras. Sebagian dari mereka bahkan ada yang meniup alat musik semacam teropet khas Irlandia…kalau tidak salah. Tiba juga di restoran China, setelah kenyang itu orang Phillipino ngajakin muter-muter Milan naek taxi. Ok lah akhirnya bertiga puter-puter sana sini mbulet-mbulet sampai sopir taxi bingung sendiri tapi tetap senyum karena argo jalan terus. Agak maleman balik ke hotel dan itu argo lebih dari 100 Euro….hemm Pak sopir pun berdendang riang.
Malemnya makan bareng sama itu orang Phillipino di restoran China, di Milan banyak restoran China dan tidak sulit untuk menemukan itu restoran China di beberapa tempat. Enakan di lidah makan di Restoran China…ada nasi goreng…seafood… mie…de el el yang rasanya Asia banget.
Esok harinya sarapan telur orak-arik dan Yoghurt yang rasa banana enak gila …hemmm nyam..nyam. Siangnya pergi ke supermarket, lupa apa namanya tapi kayak carrefour gitu. Belanja coklat dan kawan-kawannya sampai dua kilo sama sebotol minuman. Setelah itu menikmati suasana sekitar hotel ….jalan-jalan sambil menghisap Marlboro putih terbalut udara yang dingin-dingin seger.
Malemnya konkow-konkow di Irish Bar tidak jauh dari hotel. Ngobrol-ngobrol sama cewe dari London. Haha-hihi ngobrol sana-sini sambil minum Vodka campur lemon. Tidak terasa saking asiknya sampai larut malem habis dua botol. Itu Bar enak suasananya dengan musik dan pengunjungnya anak-anak muda semua. Balik ke hotel sama itu cewe yang kebetulan menginap di hotel yang sama. Sambil menghisap Marlboro putih dan jalan terhuyung tidak tegak lagi.
Esok paginya cabut ke airport Linate naik taxi. Itu Pak sopir seneng banget di kasih tip. Argo menunjukkan 14 Euro, kuberi lembaran 20 Euro dan kubilang simpan aja kembaliannya. Setelah menghisap sebatang rokok lalu masuk ke airport dan terbang kembali ke Jakarta via Frankfurt, Jerman. Pulang kampung setelah sepekan di Milan, Italy.







